Saya penggemar nasi kucing kelas berat (selain bebek tentunya).Yang sudah tau ke kucingan bareng saya pasti tau berapa sate rempela atau sate dendeng ayam yang masuk ke perut saya tanpa ampun cialis from us pharmacy, kucing pasti kalah juga.
Nah ada pemandangan yang agak mencolok dari orang-orang yang menyantap nasi kucing ini atau yang saya lihat dari teman-teman loenpia sendiri ketika mengembat nasi kucing ini yaitu buang sampah sembarangan.
Kalau pas saya liatin pasti akan jadi gojek kere saja.Kalau saya tanya kenapa, jawabannya pasti sekitar “nanti juga ada yang bersihin“; cialis from us pharmacy.Memang kita tidak bisa membantu tukang sampah yang notabene orang kecil untuk meringankan tugas mereka?!??!
Saya lihat di warung nasi kucing yang saya kunjungi entah itu di Pasar Jatingaleh cialis from us pharmacy, daerah banyumanik ataupun pak gepeng di simpang lima, mereka pasti menyediakan tempat sampah minimal satu.Salut untuk penjual nasi kucing dan seperti biasa kebanyakan pembeli malas untuk membuang sampah ada tempatnya walaupun itu hanya beberapa langkah saja dari tempat kita makan.
Padahal untuk membungkus bekas nasi kucing, mengumpulkannya dan membuangnya sewaktu kita selesai tidak memakan energi yang besar – cialis from us pharmacy.Kalau memang agak jauh dari posisi makan kita ya kumpulkan saja dulu dan tunggu sampai kita selesai.
Menurut saya kalau ingin merubah kondisi apapun mulailah dari hal yang terkecil dulu dan membuang sampah pada tempatnya merupakan hal terkecil dan termudah sepengetahuan saya.Jadi jangan ngomel-ngomel kalau pas hujan lalu banjir atau becek dan banyak sampah atau malah sampah berserakan di sekitar rumah kita, ingatlah dulu dimana kita biasa membuang sampah kita, kalau sudah benar bolehlah kita mengomel-ngomel.
Catatan: hanya sebuah uneg uneg gak penting dipagi hari; cialis from us pharmacy




November 5th, 2008 at 4:51 am
[quotes] be the change you wish to see in the world – Mahaguru Gandhi –
November 5th, 2008 at 6:46 am
hohohohohoh…. pak gepeng.. dulu betmenan sering kucingan di situw…..
November 5th, 2008 at 7:36 am
sampahe dah bikin semarang banjir tuh
November 5th, 2008 at 8:04 am
mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang
November 5th, 2008 at 8:06 am
Betul juga.. kebersihan adalah segala2nya om…
Lanjoet….
November 5th, 2008 at 10:17 am
ho’oh.. setuju mas,, mulai dari yg kecil, diri sendiri dan sekarang juga…
*untung aja fotonya kecil dan ada tiang ituh*
November 5th, 2008 at 3:20 pm
bersih itu sehat, bersih itu indah.. apalagi kalo ga cuma bersih tapi juga rapi
November 5th, 2008 at 3:33 pm
hmmm kopdar kucngan enak nieh
November 5th, 2008 at 7:19 pm
dan gara2 loenpia aku jd suka makan di kucingan.
November 7th, 2008 at 1:42 am
Setuju , bahkan saya punya prinsip lebih baik mati kelaparan daripada mati karena keracunan
November 7th, 2008 at 7:59 pm
siip…
November 8th, 2008 at 7:47 am
Klo pengalamanku makan dikucingan…yang bersihkan sampah itu penjualnya
November 8th, 2008 at 9:37 am
kucingan woooi aku kangennnn.di bangka dak ada tuh…biasanya yang jualan yang bersihin kayak di monggo mas pasar bulu…salam kenal
November 8th, 2008 at 11:47 am
dukung mas adi jadi mentri lingkungan hidup!
November 10th, 2008 at 5:49 am
sesuk mas didut jadi menteri kebersihan dan lingkungan hidup… hakhak!
November 12th, 2008 at 12:00 pm
baca juga artikelku
http://muhammadzaidan.wordpress.com/
thank’s
November 12th, 2008 at 3:48 pm
nasi kucing… cakar bacem… tempe goreng… sate keong… meong-meong-meong
(salam kenal buat semuanya, mohon cipratan ilmunya)
November 13th, 2008 at 11:27 am
couldn’t agree more….apa sih susahnya ngumpulin bungkus makanan yang kita makan sendiri?!orang sering lupa kalau kebiasaan2 kecil nan sepele itulah yang mencerminkan diri seseorang sebenarnya. kebiasaan sesepele apapun bisa berakumulasi menjadi watak, watak bisa menjadi kepribadian.kita cuma bisa bilang “anna dholfatuminal iman”, kenyataannya..?
mungkin orang mencibir karena sok bersih,tapi kenapa malu?justru merekalah yg jorok yang harus malu.
November 14th, 2008 at 1:07 pm
kalo sate ususnya bikin perut mules-mules, apa karna faktor kebersihan juga, Pak?
)
November 20th, 2008 at 11:36 am
He eh..
memang seharusnya mereka peduli lingkungan
November 22nd, 2008 at 11:19 pm
untung skarang dah ga beli nasi kucing lagi. *merasa udah menyelamatkan lingkungan*
November 23rd, 2008 at 9:46 am
Aku punya pengalaman sama nih
Ceritanya jalan-jalan sama temen ke Jogja, di pinggir jalan kita makan kucingan, nah pas temenku selesai makan dia (kayak kebiasaan di Semarang) buang bungkus-nya di bawah. Terang aja diketawain temen-temen, coz ternyata orang Jogja pada buang sampah di tempat sampah yang disedian sama penjual nasi kucing. Karena malu dia ambil lagi trus dibuang ketempat sampah.
Jadi menurutku biar orang Semarang ga buang sampah sembarangan harus dibudayakan dulu malu buang sampah
November 27th, 2008 at 9:40 am
Sebetule bukan hanya sampah bekas bungkus nasi kucing aja yang perlu diperhatikan, tapi juga masalah higienis dari makanan yang di sajikan oleh angkringan/nasi kucing tsb. Terutama berbahan dasar daging (sate usus, ceker, kepala), yah kalo barang yang udah lama ga laku ya jgn dijual lagi, pernah aku mo makan ceker tapi udah berlendir gitu..jadinya gak jadi deh, takut sakit perut..
Mari kita ciptakan bahwa nasi kucing yang sehat higienis dan tentunya murah, sehingga dapat mengangkat pamor nasi kucing sendiri… Setuju?
December 8th, 2008 at 8:56 am
setuju ! memang sesuatu yg besar harus diawalai keberhasilan kecil ..
December 10th, 2008 at 9:19 pm
skrg nasi kucing dah jadi trend ya.. jd inget dulu jaman kuliah, yg bener2 pas-pasan duitnya pasti lari ke kucingan.
kalo masalah kebersihan dari dulu sampe sekarang kayanya sama, yg nersdih ya bersih, yg kotor ya kebangetan kotornya..
December 23rd, 2008 at 8:38 pm
Bawah Gerobak Adalah tempat sampah yang besar kira2 itu yang terjadi di sego kucing.hampir semua merasakan itu.Kulon pasar bulu yang nota bane deket tempat sampah juga begitu.gak peduli lesehan atau di gerobak sama saja,remes bungkuse diuncalne.atau perlu dikasih tempat sampah (baca : Keranjang gede).sekali2 bakti sosial bagi2 keranjang hehehehhe.
January 6th, 2009 at 12:38 am
[...] Warung nasi kucing merupakan contoh kasus yang agak unik menurut saya karena yang menyantap nasi kucing bisa dari tukang becak sampai orang-orang yang baru selesai berdugem ria. Dan biasanya di setiap warung nasi kucing mereka sudah menyediakan tempat sampah untung setiap bungkus nasi kucing yang terbuang. Tetapi apa mau dikata kalau sebagian besar pembeli masih suka membuang sampahnya sembarangan karena beranggapan aan ada yang membersihkan. [...]
January 9th, 2009 at 3:32 am
Secara filosofisnya, nasi kucing memiliki multitafsir. Bisa jadi ditafsiri sebagai nasi yang disantap oleh kucing atau juga dapat diartikan nasi untuk manusia yang porsinya hampir sama dengan porsi makanan kucing. Kedua tafsiran ini memiliki kesamaan secara substansif yakni sama-sama berbasis binatang dengan obyek kucing. Jadi jika ada istilah nasi kucing identik dengan kekotoran dan ketidaktertiban, ya itu lumrah aja berdasarkan filosofis “binatang”. Kan belum ada kucing yang mau cuci piring bekas makannya sendiri, belum ada kucing yang mau menyapu kotoran yang diakibatkan dirinya sendiri. Kalo ingin nasi kucing itu identik kebersihan, mungkin harus diganti namanya menjadi nasi manusia ala porsi kucing.
January 9th, 2009 at 7:18 am
* fatho: hahaha~ jadi kelumrahan ini menjadi pembenaran yah buat orang-orang yang makan nasi kucing dan membuang sampahnya sembarangan? Saya berpikir kok malah mereka tidak mempunyai multitafsir sedalam itu. Membuang sampah dengan benar itu hanya kebiasaan dan automatisasi dalam kehidupan kita sehari hari kok
January 13th, 2009 at 9:26 am
kalo gak penting ngapain juga ditulis mas?
March 6th, 2009 at 8:25 am
Namanya juga manusia. Kita sendiri juga lupa betapa tidak bersihnya kita. Kita pikir fisik kita udah bersih, tapi hati kita belum bersih. Kita pikir wajah kita udah bersih, tapi pikiran kita masih sekotor tempat sampah. Tu kan?
January 13th, 2010 at 11:23 am
wahhhh siapa tuh tadi yang buang sampah sembarangan? tak jewer kupingnya!!!
alhamdulilah saja juga pengembat nasikucing, tak tanggung2 tiap malam pasti mampir ke kucingan kalo gak hujan, walau sekedar minum jeruk anget atau secuil gorengan (baca=satu).
yg saya cari setelah makan adalah tempat sampah.
kalo gak ada ya diuntel untel, dilipet dibalangke sing dodol!!! *walah sadis men kowe le*, ya kalo terpaksanya buang aja dibawah gerobagnya!!!
itu cuma opini juga lho ya.
pesan ; JADI BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPAT SAMPAH (yg pantes dibilang tempat sampah)