23 Apr 2008

Dialek Semarangan, Sing Piye Nda?

38 Komentar

Semarang bukan cuma Lawang Sewu. Semarang bukan cuma loenpia (kalo Loenpia.net ini jelas beda tentunya :p;). Semarang bukan cuma Simpang Lima. Semarang bukan cuma Tugu Muda. Semarang bukan cuma rob dan banjir. Seperti Purwokerto dengan dialek Jawa-banyumasannya (yang ngapak-ngapak itu), saya yakin Semarang juga punya dialek sendiri. Selama ini bagi kita yang orang awam mungkin hanya menjawab seperti ini kalau ditanya dialek khas Semarang itu yang seperti apa: “Halah pokokmen nganggo ik, ok, he eh, nda, ndhes..ki lho” (Pokoknya ada ik, ok, he eh, nda, ndhes itu lho-Nin, terj. bebas). Setidaknya kita memiliki insting kebahasaan bahwa kita berbicara dengan logat yang berbeda dari orang Purwokerto, misalnya. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Kalau orang yang pernah belajar dialektologi pastinya akan lebih kritis. Tapi saya tidak akan membahas dialektologi di sini, hehe. Baca Selengkapnya »

4 Feb 2008

Alun-alun Semarang Tinggal Nama

24 Komentar

Alun-Alun Semarang tahun 1935

(alun-alun Semarang tahun 1935 dengan latar Masjid Besar Kauman)

Alun-alun (Jw : aloon-aloon) merupakan rancangan pusat kota tradisional asli Indonesia yang pada awalnya adalah konsep perkotaan masa kerajaan Hindu Majapahit. Banyak diduga bahwa alun-alun di keraton Islam merupakan turunan dari konsep alun-alun pada masa Hindu. Banyak yang belum mengungkap bahwa revolusi agama atas kedatangan Islam telah mengubah konsep alun-alun peninggalan Hindu. Baca Selengkapnya »

27 Dec 2007

Semarang Yang Saya Kenal

25 Komentar

Tujuh belas tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, dalam mata kecil saya kota ini adalah kota yang panas dan berdebu, jalanan yang lengang dan pusat keramaian bernama Simpanglima. Kedungmundu terkenal dengan keangkerannya karena adanya ‘bong cina’ yang luas. Jalan Brigjen Sudiarto yang masih bernama jalan Majapahit sekaligus tempat dimana terdapat Istana Majapahit yang legendaris diwaktu kecil saya. Ngaliyan, Mangkang? Ah, itu di luar kota Semarang demikian pikir saya waktu itu.

Masih dalam bayangan masa kecil saya, kadang saya bermimpi buruk tentang kota ini, lengang dan berdebu penuh dengan monster yang bersembunyi di got-got besar sepanjang jalan Sriwijaya yang bersambung ke jalan Veteran, termasuk mimpi seram tentang rumah tua di sudut jalan Ki Mangunsarkoro dan jalan Veteran bekas istana Oei Tiong Ham sebelum beralih rupa menjadi kampus seperti sekarang. Jajaran bangunan gudang reyot bekas gudang gula sang hartawan Oei di gang yang entah apa namanya di sisi jalan veteran pun pernah masuk dalam mimpi buruk saya.

Sebuah kota yang kosong, tidak seperti Jogja yang masih membawa langgam mataraman-nya (dulu) atau Solo sebagai jantung jawa pun Surabaya dengan tradisi areknya. Tidak banyak yang saya cecap dari kota ini selain “kota-kota-pesisir-pada-umumnya”. Kota yang kemudian tiba-tiba merobohkan gelanggang olahraga yang ada di sisi utara dari Simpanglima untuk menjadi sebuah mall pertama di Semarang, membongkar Mickey Mouse dan bersalin rupa menjadi Super Ekonomi yang juga tidak bertahan lama, kota yang tiba-tiba memunculkan Johar Shopping Center yang berdampingan dengan Pasar Johar yang legendaris (dan ternyata terbukti tidak bisa bertahan lama sehebat Johar). Kota yang merayakan haru biru tahun baru dengan dangdut massal di simpanglima. :D
Baca Selengkapnya »

13 Dec 2007

Semarang dan Bencana

13 Komentar

Di salah satu komen postingan saya mengenai pemanasan global ada yang berkomentar kalau kerusakan alam atau bencana yang terjadi itu tidak hanya karena akibat perubahan iklim tetapi terjadi juga karena kebijakan tata kota yang kurang baik dari pemerintah kota.

Dan itu, saya rasa mungkin benar. Semarang memang paling rawan dengan bencana, tapi jangan salah bukan bencana alam tetapi karena bencana lingkungan atau ekologis.


Bencana jenis ini terjadi karena ulah manusia sendiri. Bagaimana daerah serapan air dibuka untuk perumahan atau alih fungsional yang lain tanpa pengelolaan lingkungan yang baik sehingga air hujan melaju tanpa penghambat yang cukup dan menyebabkan potensi bencana banjir menjadi lebih besar.

Atau bagaimana bencana longsor rentan untuk terjadi karena pengeprasan bukit yang membuat kondisi tanah menjadi labil.

Dari data LBH tahun 2005, ternyata 10 dari 16 kecamatan di Kota Semarang rawan dengan bencana. Artinya kita yang tinggal di Semarang memang hidup dengan potensi bencana di sekitar kita.

Kalau bicara soal solusi, kita sebagai masyarakat biasa tentu saja mempunyai keterbatasan untuk melakukannya. Beberapa solusi seperti membangun sumur serapan tentu saja bisa menjadi alternatif solusi untuk mengurangi potensi bencana banjir tapi tidak banyak orang juga yang sadar dan mampu untuk melakukannya.

Kalau sudah begini memang kita harus bersiap hidup dengan potensi bencana. Artinya kita memang harus lebih waspada dengan potensi bencana di sekitar kita. Waspada artinya bersiap secara pengetahuan atau informasi tentang menghadapi bencana.

Mungkin informasi macam ini bisa didapatkan melalu posko-posko 24 jam yang didirikan oleh PMI atau SAR karena kota Semarang terkenal dengan banjir dan robnya.

Dengan menghubungi pihak yang lebih mempunyai informasi mengenai bencana kita menjadi lebih siap untuk menghadapi bencana di sekitar tempat tinggal kita sendiri, entah itu sebelum, pada atau setelah bencana terjadi.

Adakah teman-teman yang mempunyai no kontak posko-posko tersebut?

Gambar diambil dari sini

22 Aug 2007

Loenpia tentang Cover Bajakan Buku Lokal

18 Komentar

buku buku

Belakangan ini anget banget soal cover buku Jasakom yang membajak gambar lord voldemort dari harry potter, seperti diulas di blognya pleki : http://ple-q.com/2007/07/05/buku-jasakom-membajak-harry-potter/
hal ini jadi panas, karena harry potter itu beken. dasar pembajak bego, mbajak kok yang beken2.. ya langsung ketahuan.

Namun jauuuh sebelum kasus jasakom vs. harpot, telah ditemukan juga kasus serupa. Namun yang dibajak ya nggak terkenal-terkenal banget, makanya kasusnya nggak booming, soalnya hanya orang2 seperti saya yang tahu (huahahaha!!) seperti berikut ini :
Baca Selengkapnya »

Aggregator Loenpia