<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Loenpia dot net &#124; Komunitas Blogger Semarang &#187; Kuliner</title>
	<atom:link href="http://loenpia.net/blog/category/kuliner/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://loenpia.net/blog</link>
	<description>Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 23:11:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Mengembalikan Citra Taman KB</title>
		<link>http://loenpia.net/blog/semarangan/mengembalikan-citra-taman-kb.html</link>
		<comments>http://loenpia.net/blog/semarangan/mengembalikan-citra-taman-kb.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 10:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Semarangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loenpia.net/blog/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Bagi masyarakat kota Semarang, Taman Menteri Supeno atau yang lebih dikenal dengan taman KB memiliki daya tarik yang besar, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Saat ini taman KB disulap menjadi taman yang lebih menarik dan aktraktif dengan penataan mulai dari soft material dan hard material. Terdapat deretan pepohonan rindang, tanaman-tanaman hias, Sclupture Keluarga Berencana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2011/04/KULINER1-taman-kb.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1284" title="KULINER1-taman-kb" src="http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2011/04/KULINER1-taman-kb-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Bagi masyarakat kota Semarang, Taman Menteri Supeno atau yang lebih dikenal dengan taman KB memiliki daya tarik yang besar, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Saat ini taman KB disulap menjadi taman yang lebih menarik dan aktraktif dengan penataan mulai dari soft material dan hard material. Terdapat deretan pepohonan rindang, tanaman-tanaman hias, <em>Sclupture</em> Keluarga Berencana (KB) di tengah taman, tempat duduk dan juga berbagai permainan anak anak, semuanya membuat suasana di taman tersebut indah dan nyaman.</p>
<p>Seperti hutan di tengah kota, taman ini ditumbuhi pohon-pohon besar dengan daun yang lebat, bercabang ke berbagai arah. Pagi hari, banyak masyarakat yang menghabiskan waktu di sana. Ada yang berolah raga, bermain bersama anak-anaknya, atau sekadar duduk-duduk di bangku taman.</p>
<p>Taman Menteri Supeno dibangun oleh pemerintah daerah dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1975. Tujuan pembangunan taman ini adalah untuk memanfaatkan areal kosong yang tercipta karena pertemuan jalur lalu lintas disekitar taman. Taman ini menjadi taman aktif ditengah kota sebagai paru-paru kota sekaligus sebagai taman rekreasi.<span id="more-1128"></span></p>
<p>Taman kota tidak boleh terlepas dari fungsinya sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Oleh karena itu, berbagai tanaman keras harus ada. Taman jangan hanya berisi bunga-bungaan. Kedua jenis tanaman ini harus disandingkan serasi. Kalau taman berisi bunga semua, fungsi penyerapan air dan penghasil oksigen tidak akan berjalan optimal. Sebaliknya, kalau berisi pohon keras saja, taman berkesan menyeramkan, tidak nyaman. Apalagi, jika tidak ada penerangan yang memadai. Bisa-bisa disalahgunakan saat malam.</p>
<p>Diantara deru mesin angkot, motor dan juga mobil pribadi, banyak warga menghabiskan pagi itu dengan aktivitas jalan santai (<em>hang out</em>), olahraga atau juga sekedar menikmati sarapan di luar rumah. Tempat terbuka yang berfungsi sebagai ruang publik seperti Taman KB menjadi tujuan warga untuk sekedar menghabiskan minggu pagi itu. Bahkan warga memanfaatkannya sebagai tempat pertemuan serta tempat istirahat saat rehat di kantor untuk sekedar makan, minum dam beristirahat sejenak menjernihkan pikiran.</p>
<p>Sangat menyenangkan menyaksikan aktivitas warga yang begitu hidup di taman ini. Pada hari-hari biasa mulai dari pagi sampai malam begitu banyak aktivitas mulai anak sekolah, orang kantoran, pengemis pengamen sampai para pedagang kaki lima. Memang jika dibandingkan dengan taman yang ada di Semarang, taman ini sangat jauh bedanya. Namun yang menjadi nilai lebih dari taman ini, adalah kemudahan akses bagi siapa saja untuk memanfaatkannya selain lokasi yang strategis sekaligus gratis. Inilah yang menyebabkan warga memilih tempat ini sebagai arena titik pertemuan ataupun arena menghabiskan pekan.</p>
<p>Fungsi taman sebagai komunitas bersama (interaksi sosial) diwujudkan dengan pola-pola jalur pedestrian yang melewati node-node tertentu sebagai tempat berhenti untuk sekedar duduk, bersantai, sambil menikmati kesejukan taman. Fungsi taman sebagai tempat rekreasi, bermain dan refreshing, terlihat jelas dengan adanya fasilitas untuk bermain bagi anak-anak. Fungsi rekreasi ini juga terlihat dari berbagai acara yang digelar di taman ini. Mulai dari pameran seperti pameran flora dan fauna, ajang perlombaan sampai dengan konser musik. Fungsi taman sebagai simbol/<em>landmark</em> kawasan ditonjolkan dengan bentukan <em>sculpture</em> sebuah keluarga berencana yang terdiri dari patung seorang ibu yang menggendong anak dan menggandeng anaknya.</p>
<p>Untuk lebih menarik orang memanfaatkan taman ini, mungkin ada baiknya dilengkapi dengan fasilitas lain seperti adanya taman bacaan atau perpustakaan gratis yang menyediakan bacaan untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Bahkan area hotspot seperti yang bisa dijumpai di taman kota Surabaya. Dengan adanya fasilitas tersebut, tentu fungsi sosial dan edukasi sebuah taman bisa tercapai. Setidaknya unsur edukasi jadi terlihat di tempat ini disamping tempat makan dan tempat <em>kongkow</em>.</p>
<p>Membuat taman kota haruslah diikuti dengan proses pemeliharaan yang serius. Jika tidak, semua langkah yang diambil akan mengesankan projek belaka yang bersifat parsial. Kematangan program dan pembiayaan menjadi tuntutan mutlak. Jangan sampai taman kota yang sudah indah dan bermanfaat ini disalahgunakan. Seperti penyalahgunaan sebagai gudang sekaligus rumah para pemulung dan gelandangan, ada yang identik sebagai tempat &#8220;mojok&#8221; saat pacaran. Sebagian lain bahkan sebagai tempat mangkal para penjaja seks.</p>
<p>Perlu adanya penegakan hukum dan aturan jelas bagi masyarakat pemakai dengan diimbangi dengan sosialisasi dan pengajaran ulang bagi warga tentang arti dan manfaat taman kota. Dengan sosialisasi yang tepat, taman kota akan memberi manfaat yang besar bagi masyarakatnya. Fungsi utama taman harus dapat membuat orang nyaman. Itu yang harus terus diusahakan.</p>
<p>Sudah saatnya seluruh masyarakat mengembalikan citra baik sebuah taman kota. Bisa dimulai dengan membangun fasilitas penunjang taman seperti trotoar dan lampu penerangan serta memudahkan aksesibilitas bagi semua kalangan untuk mendatangi taman.</p>
<p>Ada dua strategi yang dapat dipakai pemerintah untuk dapat mengembalikan citra taman taman kota di Semarang. Pertama dengan bekerjasama melalui pihak investor yang diwajibkan mengalokasikan 10% pembangunannya untuk RTH, serta kedua, memberikan tanggung jawab kepada penduduk untuk memelihara taman. Jika perlu, pemkot bisa &#8220;membeli&#8221; lahan dari masyarakat untuk dijadikan ruang terbuka publik seperti yang dilakukan beberapa kota di luar negeri.</p>
<p>penulis : Sukawi &#8212;&#8212;&#8212; penghuni <a href="http://sukawi.blogspot.com">kota topis</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loenpia.net/blog/semarangan/mengembalikan-citra-taman-kb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warung Hik dan Budaya Jagongan</title>
		<link>http://loenpia.net/blog/semarangan/warung-hik-dan-budaya-jagongan.html</link>
		<comments>http://loenpia.net/blog/semarangan/warung-hik-dan-budaya-jagongan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 04:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Semarangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loenpia.net/blog/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Cobalah Anda sesekali berputar mengelilingi Kota Semarang kala malam tiba. Kerlap-kerlip lampu malam yang menghiasi jalanan besar amat interaktif untuk memanjakan mata. Bukan itu saja pemandangan eksotis yang menarik. Ada warung angkringan yang terkenal dengan warung hik dengan menu andalan sego kucing. Ratusan warung hik yang &#8220;ngetem&#8221; di berbagai sudut kota, mulai dari trotoar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2011/04/KULINER2-hiks.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1286" title="KULINER2-hiks" src="http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2011/04/KULINER2-hiks-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a>Cobalah Anda sesekali berputar mengelilingi Kota Semarang kala malam tiba. Kerlap-kerlip lampu malam yang menghiasi jalanan besar amat interaktif untuk memanjakan mata. Bukan itu saja pemandangan eksotis yang menarik. Ada warung angkringan yang terkenal dengan warung <em>hik</em> dengan menu andalan <em>sego</em> kucing. Ratusan warung hik yang &#8220;ngetem&#8221; di berbagai sudut kota, mulai dari trotoar di lingkungan Kampus sampai dengan lingkungan perumahan, dan masih banyak lagi, adalah &#8220;aset sekaligus kantong bisnis&#8221; yang pantas dikembangkan.</p>
<p>Predikat kota dengan banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL) bagi Semarang, tampaknya bukan sesuatu yang tanpa alasan. Tidak dapat dimungkiri bahwa hampir segala sendi kehidupan keseharian masyarakat Semarang banyak dipengaruhi oleh keberadaan para PKL di kota itu.</p>
<p>Untuk lingkungan yang berdekatan dengan kampus, kegiatan sosial ekonomi masyarakat Semarang penuh warna nuansa mahasiswa. Berbagai kegiatan usaha ekonomi banyak yang berbasis pada kebutuhan keseharian mahasiswa. Dari toko buku, fotokopi, komputer, jasa pengetikan, laundy, toko alat tulis, usaha informasi, rumah kontrakan dan kamar kost, hingga warung makan. Semua tersedia dari yang berharga murah hingga mahal, sesuai dompet mahasiswa.<span id="more-1124"></span></p>
<p>Khusus untuk warung makan selain tersegmentasi karena faktor harga, juga dapat dibedakan antara warung makan permanen dan warung tenda kakilima. Kalau warung makan permanen kebanyakan buka dari pagi hingga menjelang malam, warung tenda kakilima menggelar dagangan sejak terbenamnya matahari hingga larut malam.  Diantara warung tenda terdapat warung <em>hik</em> dengan penerangan yang terbatas, yang menawarkan berbagai makanan murah meriah.</p>
<p>Banyak pemilik warung <em>hik</em> ini berasal dari luar daerah namun mengadu nasib dengan ikut meramaikan suasana malam Kota Semarang. Lebih asyiknya lagi, rata-rata harga makanan di warung <em>hik</em> ini, yang relatif murah, sehingga membuat ketagihan para pembeli, khususnya bagi para mahasiswa berdompet tipis. Warga pendatang yang kebanyakan berstatus mahasiswa umumnya juga lebih senang berlama-lama di warung <em>hik</em>.</p>
<p>Kehidupan mahasiswa yang penuh warna bagai tercermin dalam kehidupan warung makan dilingkungan kampus di Semarang. Dari makanan sekelas hotel dan cafe hingga <em>sego </em>kucing semua tersedia. Selanjutnya tergantung kemampuan mahasiswa dalam memanjakan perutnya. Nyatanya, hampir tiap malam warung itu selalu penuh dengan pengunjung. Larutnya malam tidak mempengaruhi hingar-bingar kemeriahan warung makan.</p>
<p>Bagi mereka yang berkantung tipis, pilihan akan jatuh ke warung <em>hik</em>. Tenda dengan penerangan yang terbatas dan angkring sebagai tempat menggelar dagangan sekaligus berfungsi sebagai meja makannya ini, di kalangan mahasiswa dikenal sebagai &#8220;warung <em>hik</em> alias <em>sego</em> kucing&#8221;. Di warung angkring ini dapat makan sebungkus nasi berlauk ikan teri dan sambal berharga sekitar Rp 2000. Lumayanlah sebagai pengganjal perut sambil menunggu kiriman uang datang. Aneka gorengan dan makanan lain juga dapat diperoleh disini, dengan aneka wedang yang dapat menghangatkan badan di malam yang dingin.</p>
<p>Tentu saja, format warung <em>hik</em> dari segi bisnis memiliki prospek cerah bagi pengembangan finansial berbasis kerakyatan. Hanya saja yang perlu diperhatikan, kebersihan dan keindahan warung <em>hik</em> tersebut perlu ditinjau kembali. Mengingat, kerap dijumpai gerobak dan tenda tempat warung <em>hik</em> itu didirikan tak memperhatikan aspek kebersihan (higinies).</p>
<p>Harapan kita, dengan kehadiran warung <em>hik</em> yang tertata apik di berbagai sudut dan pinggiran jalanan, akan mampu menambah nilai jual kota ini sebagai kota pariwisata. Idealnya lagi, jika pemerintah daerah sudi memberikan &#8220;suntikan dana&#8221; guna mengembangkan konsep mentah warung <em>hik</em> ini.</p>
<p>Satu hal yang menarik di warung <em>hik</em> adalah suasana <em>jagongan </em>penuh canda disertai diskusi berbagai hal. Dari masalah politik dengan hingar bingar pemilu presiden, soal ujian, perselingkuhan, cinta segitiga, cewek adik angkatan hingga guyonan dosen killer dapat dikupas tuntas disini. Hadirnya warung <em>hik</em> menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan sembari berbincang &#8220;ngalor-ngidul&#8221; cukup ditemani segelas wedang dalam suasana yang nyaman.</p>
<p>Pembeli yang sering mengunjungi warung <em>hik</em> dapat menemukan suasana &#8220;diskusi&#8221; bersama pelanggan yang lain. Tradisi <em>jagongan</em> yang telah dimiliki masyarakat, nampaknya berlanjut di warung <em>hik</em>. Penikmat seakan menemukan &#8220;identitasnya&#8221; melalui budaya <em>jagongan </em>ini. Untuk sekedar bersantai atau mencari hiburan ditengah menumpuknya tugas kuliah, duduk sebentar dan minum segelas wedang jahe menjadi kenikmatan tersendiri agar terasa lebih rileks dan hangat.</p>
<p>Setiap pelanggan dapat saling beradu argumentasi dengan kondisi yang tetap <em>guyub</em> dan penuh toleransi sambil menikmati segelas wedang jahe atau teh panas sambil menyantap gorengan dengan aroma asap rokok. Pelanggan dengan bebas menggulirkan isue penting yang sedang ngetrend untuk kemudian dijadikan bahan diskusi bersama. Meski terjadi debat seru toh masing-masing dapat tetap saling mendengarkan dan saling menghargai.</p>
<p>Tradisi diskusi dalam suasana santai ini terbukti sebagai ajang berlatih mengeluarkan pendapat bagi calon pemimpin bangsa. Semoga semangat budaya <em>jagongan</em> dengan penuh adu argumentasi dapat menjadi media pembelajaran dalam hidup sosial bermasyarakat dan menjadi bekal berharga jika lulus kelak.</p>
<p>penulis :Sukawi&#8212;&#8212;&#8211; penghuni <a href="http://sukawi.blogspot.com">kota tropis</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loenpia.net/blog/semarangan/warung-hik-dan-budaya-jagongan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yo Mangan Yo Internetan!!</title>
		<link>http://loenpia.net/blog/kuliner/yo-mangan-yo-internetan.html</link>
		<comments>http://loenpia.net/blog/kuliner/yo-mangan-yo-internetan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 03:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>didut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[kucingan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner semarang]]></category>
		<category><![CDATA[yotenan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loenpia.net/blog/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Begitulah tagline yang coba dibawa oleh YOTENAN, sebuah gerobak kucingan yang membawa area wifi untuk pengunjungnya. Kalau di Jakarta sudah ada WETIGA, di Semarang sekarang ada YOTENAN. Kalau dari tempat untuk lesehan, yotenan termasuk cukup luas. Kemarin-kemarin itu mencoba kopi darat bersepuluhpun, masih ada ruangan yang cukup besar tersisa. Walau kata pemiliknya dagangannya belum lengkap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitulah tagline yang coba dibawa oleh <a href="http://www.yotenan.blogspot.com/">YOTENAN</a>, sebuah gerobak kucingan yang membawa area wifi untuk pengunjungnya. Kalau di Jakarta sudah ada <a href="http://wetiga.com/" target="_blank">WETIGA</a>, di Semarang sekarang ada YOTENAN.<br />
<img class="alignnone" src="http://lh4.ggpht.com/_mMaYrB6STgA/SoI5R2PaVwI/AAAAAAAACtw/OOOkef_8XO8/s400/IMG_0376%20%28Medium%29.JPG" alt="" /></p>
<p>Kalau dari tempat untuk lesehan, yotenan termasuk cukup luas. Kemarin-kemarin itu mencoba kopi darat bersepuluhpun, masih ada ruangan yang cukup besar tersisa. Walau kata pemiliknya dagangannya belum lengkap karena baru dibuka selama beberapa minggu ini tetapi cukup banyak pilihan sate dan gorengannya.<span id="more-600"></span><br />
<img class="alignnone" src="http://lh6.ggpht.com/_mMaYrB6STgA/SoI5QyhoFKI/AAAAAAAACts/ZDPK9op3qC4/s400/IMG_0375%20%28Medium%29.JPG" alt="" /></p>
<p>Kalau buat saya, asal ada sate usus, rempela dan pisang karamel kelihatannya sudah cukup. Ukuran gelasnyapun tidak malu-malu. Cukup besar dan saya suka dengan aroma teh panasnya, lumayan legitlah.</p>
<p>Yotenan terletak didaerah tembalang, sekitar 400 meter sebelah kanan dari patung Diponegoro. Gerobaknya dipinggir jalan dan mudah terlihat dengan adanya lampu yang cukup besar didepan gerobak.</p>
<p>Nah kalau soal harga ini yang saya kurang tau, soalnya kalau makan disana selalu ramai-ramai dan belum pernah makan sendirian *<em>summon pemilik yotenan untuk klarifikasi</em>* tetapi masih masuk akal di kantonglah untuk kucingan sambil internetan sepuasnya.</p>
<p>Jam buka yotenan dari sore hari sekitar jam 6 sampai sekitar jam 12 atau jam 1 malam. Yuk mangan yuk internetan!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loenpia.net/blog/kuliner/yo-mangan-yo-internetan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamu Jun Apa Kabar?</title>
		<link>http://loenpia.net/blog/umum/jamu-jun-apa-kabar.html</link>
		<comments>http://loenpia.net/blog/umum/jamu-jun-apa-kabar.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 05:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ninazski</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Loenpia-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Semarangan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[jamu jun]]></category>
		<category><![CDATA[jun]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>
		<category><![CDATA[wedang jun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loenpia.net/blog/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Ingatkah kalian wahai orang Semarang dengan minuman yang bernama wedang jun atau jamu jun? Bagi yang tidak pernah merasakan jamu jun, sesungguhnya mereka adalah orang yang merugi (halah). Kenapa disebut jamu jun? Karena jamu ini ditempatkan dalam &#8220;jun&#8221;, yaitu semacam gentong kecil berleher sempit untuk tempat air (tapi bukan untuk tempat jin, haha). Jamu jun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="center;"><img class="aligncenter" src="http://ninazski.googlepages.com/DSC00738.JPG" alt="" width="225" height="168" /></p>
<p>Ingatkah kalian wahai orang Semarang dengan minuman yang bernama wedang jun atau jamu jun? Bagi yang tidak pernah merasakan jamu jun, sesungguhnya mereka adalah orang yang merugi (halah). Kenapa disebut jamu jun? Karena jamu ini ditempatkan dalam &#8220;jun&#8221;, yaitu semacam gentong kecil berleher sempit untuk tempat air (tapi bukan untuk tempat jin, haha). Jamu jun ini katanya asli Demak, tapi malah sepertinya menjadi minuman khas Semarang.</p>
<p>Sekarang ini jamu jun sudah cukup sulit ditemui. Waktu saya kecil, ada beberapa mbok-mbok penjual jamu jun dengan tampilan khasnya, berkebaya dan jarik batik, memakai caping, menggendong bakul dagangan serta menenteng ember kecil berisi air untuk mencuci mangkok. Sekarang penjual jamu jun jarang ditemui. Setidaknya di kampung saya, masih ada satu penjual yang masih eksis dan itu pun jarang lewat. Dulu anak-anak kecil suka jajan jamu jun sambil berjongkok mengelilingi penjualnya, menikmati jamu jun. Kecil-kecil sudah hobi wedangan, hehe. Ternyata sampai sekarang juga masih seperti itu. Pembeli yang masih anak-anak suka jongkok mengitari si penjual sambil mengobrol (obrolan anak kecil tentunya). Yang paling saya ingat, kebanyakan anak suka minta tetesan jamu yang ada di ciduk jamunya itu, yang ditaruh di mangkok tersendiri, lalu mangkok yang berisi sisa jamu yang menempel di ciduk itu di-<em>tus</em> (istilah jawa, semacam diteteskan) di mangkoknya sendiri. &#8220;<em>Lik imbohi jamune lik!</em>&#8221;</p>
<p style="center;"><img class="aligncenter" src="http://ninazski.googlepages.com/DSC00731.JPG" alt="" width="253" height="190" /></p>
<p>Jamu jun tidak seperti jamu pada umumnya, karena rasanya manis dan berempah. Jamu jun terbuat dari campuran air, tepung beras, tepung ketan, santan, gula jawa, gula pasir, daun pandan, serta 18 jenis rempah yang disebut sariwangi batanget. Bahan rempah antara lain jahe, serai, merica, dan kayu manis. Biasanya ketika disajikan, jamu jun ditambah bubuk merica, selo (bubuk putih dari bahan herbal), serta bola-bola kecil berwarna coklat yang dinamakan krasikan. Bola-bola ini dibuat dari parutan kelapa, jahe, gula merah, dan tepung ketan.</p>
<p style="center;"><img class="aligncenter" src="http://ninazski.googlepages.com/DSC00735.JPG" alt="" width="284" height="214" /></p>
<p>Oh ya, semangkuk jamu jun yang sekarang ini harganya sekitar Rp 1000 &#8211; 2000. Sayangnya, yang berjualan jamu jun sekarang jarang sekali. Yang sering berjualan di kampung saya pun jarang lewat. Ada yang berminat menjual jamu jun??</p>
<p>*referensi bahan jamu jun diambil dari <a href="http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&amp;id_news=22434">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loenpia.net/blog/umum/jamu-jun-apa-kabar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopdar Hangat di Wetiga</title>
		<link>http://loenpia.net/blog/loenpia-ku/kopdar-hangat-di-wetiga.html</link>
		<comments>http://loenpia.net/blog/loenpia-ku/kopdar-hangat-di-wetiga.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 04:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Loenpia-ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loenpia.net/blog/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya para anggota loenpia yang berada di Jakarta mengadakan kumpul atau kopdar di suatu tempat di salah satu sisi Ibukota, di wilayah Kebayoran baru, tepatnya di Jl.Langsat no.3 Kebayoran. Wetiga. Wetiga menawarkan tempat makan yang memberikan obat rindu bagi anggota Loenpia karena Wetiga adalah Angkringan yang plek sama dengan di Semarang sana (jogja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://i253.photobucket.com/albums/hh54/kianaza/wetiga.jpg" alt="" /></p>
<p>Untuk kesekian kalinya para anggota loenpia yang berada di Jakarta mengadakan kumpul atau kopdar di suatu tempat di salah satu sisi Ibukota, di wilayah Kebayoran baru, tepatnya di Jl.Langsat no.3 Kebayoran. <a href="http://wetiga.com">Wetiga</a>.</p>
<p>Wetiga menawarkan tempat makan yang memberikan obat rindu bagi anggota Loenpia karena Wetiga adalah Angkringan yang plek sama dengan di Semarang sana (jogja, solo, dan sekitarnya juga seh). Namun Wetiga ternyata bukanlah angkringan biasa. Karena Wetiga, Warung Wedang Wifi menawarkan freewifi, sangat cocok untuk yang gila internet, blogger, pluker, miliser, twitter.<span id="more-554"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://i253.photobucket.com/albums/hh54/kianaza/loepiadancalonloenpia.jpg" alt="loenpia @ wetiga" width="240" height="320" /></p>
<p>Dengan slogannya 4 sehat 5 sempurna 6 internet. Keramahan, kepuasan, kecupukan gizi para anggota loenpia terlampiaskan. Juragan wetiga yang ramah, satu persatu anggota loenpia yang hadir (<a href="http://inikian.wordpress.com">Kian</a>, <a href="http://stevanushk.blogspot.com">Ivan</a>, <a href="http://gandevtuna.blogspot.com">Tuna</a>, <a href="http://wiwikwae.blogspot.com">Mba wiwiek</a>, Aisah, Ali, Aar, dan <a href="http://lowobiroe.blogspot.com">Lowo</a>) disapa dengan akrab, puas karena memang freewifi-nya benar-benar free dan lancer, cukup gizi dan sangat kenyang karena harga dari wetiga memang murah dan sesuai kantong kami.</p>
<p>Di Wetiga ada begitu banyak makanan dan minuman, seperti sate usus *maknyuss top markotop*, sate ati, sate kikil, sate babat, usus goreng, bestik, nasi kucing (nasi + ikan), wedang jahe susu yang enak, wedang tape, teh anget, dan masih banyak lagi (yang juga semakin akan bertambah).</p>
<p>Dan yang bikin rindu lagi adalah karena di Wetiga kita bisa berlama-lama (hingga jam 1 malam), tertawa puas, internet bebas, dan bertemu dengan seleb Blog.</p>
<p>Kemarin kami pun tak luput dari sapaan <a href="http://ndorokakung.com/">Ndorokakung</a> yang mashyur itu, dan juga Paman Tyo yang keren abis. Mereka tak jauh beda dengan di Blognya, ramah, cerdas, lucu, dan perhatian.</p>
<p>Sepertinya untuk kopdar selanjutnya Loenpia Jakarta akan sering kesana, dan semoga bisa menjadi titik temu para Loenpia yang kesasar di Jakarta.</p>
<p>nb:suasana malam itu di Jakarta hangat cenderung gerah, alhamdulillah tidak hujan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loenpia.net/blog/loenpia-ku/kopdar-hangat-di-wetiga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

