19 Aug 2006

Soe Hok Gie jalan-jalan keliling Semarang

5 Komentar

Gie. Nama lengkapnya Soe Hok Gie. Seorang aktivis mahasiswa UI tahun 66 (saudara sekandung dengan Arief Budiman), yang akhirnya meninggal di Gunung Semeru di pangkuan sahabatnya, Herman Lantang. Film yang menceritakan tentang sosok Gie ini disutradarai oleh Riri Reza, dan telah diputar di bioskop-bioskop beberapa waktu yang lalu.

Dan dalam rangka hari kemerdekaan tahun ini, Trans TV memutar film tersebut tepat pada tanggal 17 Agustus jam 22.30.

Tentang sosok Gie sendiri, saya sebelum nonton film itu, jujur saya akui tidak mengerti. Hanya pernah dengar namanya saja, dan melihat sekilas ada buku yang berjudul Gie. Tetapi belum pernah membacanya.

Dan pada waktu saya menyaksikan film tersebut barusan di Trans TV, yang membuat saya terkesan justru bukan karena sosok Gie itu sendiri, atau pemikiran-pemikiran dan harapannya. Yang menarik perhatian saya yakni, sudut-sudut kota Semarang yang terekam jelas dalam ingatan, tiba-tiba muncul kembali. Bagi saya yang sudah meninggalkan Semarang, hal itu paling tidak menjadi obat kangen dengan kota tercinta.

Yang pertama yakni, saat Gie dan teman masa kecilnya Han sering ngobrol di atas genteng rumahnya. Di latar belakang terdapat menara masjid. Di dalam cerita itu, masjid itu adalah Masjid Kebon Jeruk yang ada di jalan Kebon Jeruk di daerah Kota. Salah satu masjid tertua di Jakarta yang masih terawat dengan baik. Mungkin karena si sutradara ini susah untuk mendapatkan suasana Jalan Kebon Jeruk jaman dahulu maka dicari lah daerah yang mirip dengan jalan tersebut kala itu. Dugaan saya menara masjid yang dipakai sebagai latar adalah menara masjid yang ada di Jalan Layur. Setting di atas genteng tersebut muncul beberapa kali, di awal maupun di bagian tengah film.

Sudut Semarang yang terekam jelas lainnya adalah perempatan Jalan Depok dan Jalan Gajah Mada, dimana di salah satu sudut jalan itu ada Toko Sepatu Bata. Saya ingat betul sudut di perempatan itu, karena memang sering saya lewati kalau saya mau ke rumah Alamarhumah Nenek di daerah Kampung Pompa. Setting di perempatan Depok, muncul dua kali, saat Gie melihat iring-iringan mobil pejabat yang lewat. Di film tersebut, perempatan Depok dibuat seolah-olah berada di tahun 60an. Tapi yang tidak bisa menipu adalah Toko Sepatu Bata yang terpampang dengan jelas. Saya sendiri nggak tahu sudah berapa lama Sepatu Bata eksis di Indonesia. Apakah di jaman itu sudah ada? Mungkin saja sih…

Kemudian, daerah yang lain adalah taman di samping Gereja Blenduk didepan Kantor Samudera Indonesia. Saat Gie sedang minum es di sebuah taman sehabis demonstrasi, dan secara tidak sengaja bertemu dengan Ibunya. Yang menjadi latar belakang adalah gedung yang ada di seberang Gereja Blenduk dan disebelah Warung Sate Kambing. Saya lupa nama warung tersebut. Kalau nggak salah sih Sate Kambing 99. Kebetulan saya dulu saat belajar fotografi pernah hunting di daerah sekitar taman itu. Jadi masih ingat betul beberapa gedung di sekitar taman itu.

Paling tidak masih ada dua lokasi lagi, yakni sekitar Jembatan Mberok. Dipakai sebagai lokasi syuting saat Gie sedang berdemonstrasi. Dan sebagai gedung Bank Central adalah gedung yang ada di samping Kantor Pos Besar Semarang yakni, kalau orang Semarang jaman dulu menyebutnya Gedung Papak, karena bentuknya memang papak alias kotak. Gedung ini jaman dahulu pernah terbakar habis, cuma saya tidak tahu persis tahun berapa kejadian tersebut berlangsung. Mungkin sekitar thn 50 atau 60an.

Dan satu lokasi yang paling saya ingat jelas, yakni Auditorium Undip di kampus Pleburan. Muncul saat Gie menggelar pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi. Muncul lagi saat tokoh Ira dan tokoh yang diperankan Wulan Guritno bertemu untuk membicarakan tentang sosok Gie. Yang mengingatkan saya pada Auditorium Undip adalah sistem sirkulasi udaranya. Gedung ini tidak ada AC nya, dan dinding bagian atas dibuat berlubang/rongga sehingga udara dapat bebas keluar masuk. Hal itu tidak mungkin saya lupakan karena merupakan daerah “jajahan“ saya selama 5 tahun lebih jadi mahasiswa (suwe banget yo…). Gedung ini pernah dipasang AC kalau ada acara tertentu, misal dahulu saat rektornya jaman Pak Muladi, menganugerahkan Doctor Honoris Kausa pada Yang Dipertuan Agung Malaysia.

Bagi saya yang warga negara Semarang sejati (hahaha) hal itu selain menjadi obat kangen dan juga sekaligus satu kebanggaan tersendiri. Ternyata aset yang dimiliki Semarang terutama daerah kota lama dan sekitarnya terbukti dengan sedikit sentuhan masih bisa berarti banyak. Dan kalau tidak salah bukan saat Gie saja yang menggunakan daerah itu sebagai lokasi syuting, tetapi juga di film yang mencoba menembus Oscar tetapi gagal yakni Ca Bau Kan.

Jelas hal ini jadi tantangan buat warga Semarang dan Pemkot. Apalagi rencananya Semarang akan jadi tuan rumah Sea Games tahun 2013 (semoga jadi kenyataan dan bukan angin surga dari Jusuf Kalla). Fasilitas olah raga ada bahkan katanya mau ada lagi yang baru didaerah Mijen, terus bandara juga sudah diperluas dan diperpanjang landas pacunya, yang akhirnya bikin Air Asia kesengsem buka jalur langsung Semarang – Kuala Lumpur dan Semarang – Singapura. Jelas akan jadi alat promosi tersendiri.

Ayo Semarang !

17 Aug 2006

Sampah lagi, sampah lagi…

3 Komentar

Komunitas loenpia.net tentunya adalah komunitas warga Semarang yang sangat mencintai kota-nya, yaitu Kota Semarang. Tentunya keberadaan loenpia.net menjadi sia-sia jika tidak mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi Kota Semarang tercinta. Apalagi, sebenarnya kita sudah memiliki cukup power untuk memulainya.

Banyak cara untuk menunjukkan kepedulian kita atas kota kita ini. Bisa lewat kegiatan off-line seperti “resik-resik kutha” dsb, bisa juga lewat sumbangan pemikiran melalui blog loenpia.net maupun blog masing-masing anggotanya. Tapi sebaiknya bukan sekedar mengkritik pemkot maupun warga lain, namun juga memberikan solusi maupun ide-ide yang bersifat membangun.

Untuk kali yang pertama ini, saya akan menyumbangkan tulisan mengenai “sampah”. Semoga nantinya para pengurus loenpia.net dapat menyampaikan sumbangan pemikiran ini kepada yang berwenang di jajaran pemkot Semarang.

Rasanya tidak ada seorang pun di negeri ini yang tidak mengenal kata-kata “buanglah sampah pada tempatnya” dan “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Tempat sampah pun sebenarnya terdapat di mana-mana. Bahkan di perumahan di kawasan perkotaan, bisa dipastikan ada satu tempat sampah  di depan tiap rumah. Tetapi kenapa sampah berserakan di mana-mana? Di jalan-jalan, di parit-parit, di sungai bahkan di pantai.

Mungkin memang perlu adanya denda tinggi bagi siapa pun yang membuang sampah sembarangan. Tapi itu saja khan tidak cukup, karena denda pada kenyataannya hanya sebuah tindakan yang bersifat reaktif. Kita perlu tindakan preventif.

Caranya, pendidikan tentang lingkungan hidup perlu diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini. Kalau perlu hingga tingkat perguruan tinggi. Sehingga mereka akan mengerti mengapa harus membuang sampah pada tempatnya dan apa yang terjadi jika mereka mengabaikannya? Mereka pun akan tahu bagaimana harus memperlakukan alam sebagai bagian dari lingkungan hidup mereka.

Bagi orang tua, masalah sampah dan pengelolaannya khan bisa dibicarakan dalam rapat RT, arisan dan sejenisnya.

Peran pemerintah juga perlu, yaitu dalam hal pemberian sanksi/denda juga pemberian penghargaan seperti Adipura dan sejenisnya.

Sebagai pembanding, mari kita lihat kondisi di Jepang.

Di sepanjang jalan di tengah perkotaan jarang kita jumpai tempat sampah, tetapi hampir tidak terlihat adanya sampah yang tercecer atau berserakan .

Biasanya sih tempat sampah  terdapat di halte bus, stasiun kereta, pertokoan maupun di depan convenience store (warung serba ada). Itu pun dibagi-bagi lagi, satu kotak untuk kaleng dan botol, satu kotak untuk kertas (koran, majalah dll) dan satu kotak lagi untuk lainnya.

Kalau misalnya saya makan kue di jalan, maka bungkusnya harus saya kantongi hingga saya menemukan sebuah tempat sampah untuk membuangnya. Atau terpaksa bungkus kue itu saya bawa pulang dan dibuang di tempat sampah di dalam apartemen saya.

Untuk membuang sampah pun ada jadualnya. Di tempat saya, sampah dapur harus dibungkus dengan kantong plastik warna kuning yang dijual di supermarket, dengan desain dan ukuran yang sudah ditentukan oleh pemerintah kota setempat. Sampah dikumpulkan tiap hari Selasa dan Jumat pagi.

Untuk sampah berupa botol, kaleng maupun sampah kertas (koran, majalah, buku dll) dikumpulkan tersendiri pada hari yang telah ditentukan pula. Demikian juga untuk sampah besar seperti perlengkapan rumah tangga, elektronik, sepeda dll ada jadualnya tersendiri. Saya pernah membawa sampah dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah perusahaan pengelola sampah. Di sana, sampah dipisah menurut jenisnya. Bahkan kaleng cat yang sudah kosong dengan yang masih ada sisa catnya pun dipisah. Perusahaan saya harus membayar biaya buang sampah yang jumlahnya tidak sedikit.

Sebuah gang di Kyoto yang tampak bersih dan indah.

Kita semestinya bisa meniru mereka. Kalau hanya membuang sampah pada tempatnya, khan tidak memerlukan uang sepeserpun. Hanya perlu kesadaran dan kemauan saja. Apalagi kalau tempat sampah sebenarnya hanya beberapa meter saja dari tempat kita berdiri.

Jika terjadi banjir, jangan lantas buru-buru menyalahkan pemerintah yang kita tahu kemampuannya sangat terbatas. Coba kita ingat-ingat dulu, berapa banyak sampah yang sudah kita buang secara sembarangan, dan coba bayangkan berapa banyak orang yang telah melakukan hal yang sama?

Jika kita sangat mengkhawatirkan kualitas hidup anak-cucu kita di masa yang akan datang, sekaranglah saatnya untuk fight demi perubahan ke arah yang lebih baik, khususnya bagi kota loenpia, Kota Semarang tercinta.

Hidup loenpia..!!

Salam dari Shikoku-Japan,

M.Taufiq Aryanto

http://www.AsianNetBisnis.blogspot.com

15 Aug 2006

The First Post

3 Komentar

Ass…,

Hallo semua rekan2 Loenpia a.k.a para tukang Loenpia, salam kenal dari aku. Untuk posting perdanaku di Blognya Loenpia ini, aku pengen ngenalin diri-Ku aja. Bergabyung 4 Aug 2006, waktu kopdar di Masjid Baiturahman,

Orang semarangan tulen. masih mahasiswa.
Ok, thankyu…

regards,

Ricky Kurniawan

http://www.rickykurniawan.blogspot.com

Aggregator Loenpia